LUPUS


postingan kali ini pengen sekali-kali ngeshare ilmu aja dah
MAKALAH
“TERAPI GEN LUPUS”

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mandiri
Mata Kuliah    : Genetika
Dosen          : Yuyun Maryuningsih S.Si, M.Pd







Oleh:

Fatimah Az Zahro
NIM : 14111610018



Tarbiyah/ Biologi-C/ V


KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SYEKH NURJATI
CIREBON
2013 


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Serigala. Mungkin itu satu kata yang melambangkan suatu keganasan yang diidentikkan dengan hewan buas tersebut. Itulah arti dari nama sebuah penyakit yang mematikan di dunia ini, yakni  Lupus. Lupus merupakan penyakit yang dapat berasal dari faktor genetis. Pengidap lupus atau biasa disebut dengan Odapus di berbagai negara 10% diantaranya disebabkan oleh faktor genetik. Lupus merupakan penyakit yang berkaitan dengan imunitas tubuh layaknya penyakit AIDS yang disebabkan oleh virus HIV. Namun, berbanding terbalik dengan AIDS yang merusak sistem imun, lupus mengakibatkan sistem imun menjadi autoimunitas atau berjalan dengan sendirinya.
Para odapus secara tidak sadar mereka menderita lupus. Karena, gejala lupus ada awalnya hanya demam seperti penyakit flu namun dalam jangka waktu yang lama dan tidak kunjung sembuh. Lupus pun sering tidak terdiagnosa sehingga banyak juga para odapus yang tidak mengetahui bahwa dirinya mengidap lupus karena kesalahan diagnosa sebelumnya. Jika dibiarkan tanpa penanganan tim medis, maka para odapus akan terlihat ruam kemerahan pada bagian pipi dan hidung atau disebut juga dengan butterfly rash, bahkan odapus tidak tahan dengan cahaya matahari. Begitu tersiksanya hidup mereka. Lupus yang terparah adalah SLE atau Systemic Lupus Eritemathosus. Pengidap SLE dapat menjadi lumpuh dan menyerang ginjal sebagai sistem ekskresi. SLE ini ternyata tidak disebabkan oleh gen yang spesifik, melainkan banyak gen yang berkontribusi menyebabkannya dan terdapat lebih dari 50 jenis gen. Hal itulah mengapa lupus sulit terdiagnosa, karena kadang hanya salah satu gen yang menonjol dan gen tersebut merupakan penyebab penyakit biasa.
Di era modern ini, dikembangkan berbagai aspek pengobatan untuk mengobati lupus diantaranya melalui terapi gen. Terapi gen ini menjadi salah satu alternatif bagi para odapus untuk merasakan nikmatnya sehat tanpa penyakit yang mematikan tersebut. Pada makalah inilah, akan dipaparkan mengenai lupus dan terapi gen untuk menyembuhkannya.
B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut.
1.      Apakah lupus?
2.      Bagaimana mekanime penurunan lupus?
3.      Bagaimana terapi gen dilakukan untuk menyembuhkan lupus?
C.    Tujuan
Rumusan masalah yang dikembangkan dari latar belakang, bertujuan sebagai berikut.
1.      Mengetahui lupus
2.      Mengetahui mekanisme penurunan lupus.
3.      Mengetahui teknik terapi gen untuk lupus.
BAB II

LUPUS
A.    Lupus
Saya selalu penasaran dengan salah satu penyakit yang menurut orang-orang itu mematikan, namun saat saya tanya lebih lanjut, mereka tidak mengetahui bagaimana gejalanya, yang mereka tahu itu menyeramkan dan pernah ditayangkan dalam film-film, tulisan di buku-buku cerita atau novel. Saya tidak pernah mengetahui film tersebut, namun saya penasaran dengan nama penyakit ini, yaitu lupus. Berdasarkan buku-buku yang saya baca mengenai lupus ini, mayoritas para odapus -pengidap lupus- tidak mengetahui bahwa penyakit yang diidapnya merupakan penyakit mematikan, karena diantara mereka, gejalanya yakni demam  hingga berbulan-bulan. Dan jika tidak diperiksakan ke dokter atau ahli medis, mereka tidak akan mengetahui jika penyakit tersebut adalah lupus. Lupus, berasal dari bahasa Latin yang bermakna serigala ini merupakan penyakit yang tidak bisa dianggap remeh, karena pengidap penyakit ini ternyata jauh lebih banyak dibandingkan pengidap  AIDS atau ODHA.
Menurut Djauzi (2010: 240),  lupus merupakan penyakit autoimun. Artinya, tubuh menghasilkan antibodi yang sebenarnya untuk melenyapkan kuman atau sel kanker yang ada di dalam tubuh, tetapi dalam keadaan autoimun, antibodi tersebut merusak organ sendiri. Dengan kata lain, antibodi dalam tubuh diproduksi lebih banyak dari biasanya dan dapat menganggap organ tubuh tersebut musuh yang harus dilenyapkan layaknya kuman atau sel kanker. Organ tubuh yang dirusak oleh antibodi tersebut diantaranya termasuk organ vital yaitu jantung, ginjal, sendi, kulit, paru-paru, otak, dan pembuluh darah.
Penyakit ini dapat dibagi menjadi tiga diantaranya lupus diskoid, lupus sistemik, dan lupus karena obat-obatan (Morgan, 2009: 235). Lupus diskoid atau disebut juga discoid lupus erythematosus (DLE) biasanya mempengaruhi kulit, menyebabkan ruam kemerahan, lesi, ataupun keduanya. Kemudian lupus sistemik atau systemic lupus erythematosus (SLE) biasanya lebih parah dibandingkan dengan DLE. SLE menyerang sistem dan organ tubuh, seperti persendian, ginjal, otak, jantung, dan paru-paru yang dapat menyebabkan kematian bagi pengidapnya. Sedangkan lupus karena obat-obatan ini seperti alergi terhadap obat-obatan tertentu yang dikonsumsi dan biasanya beberapa obat-obatan tersebut yang digunakan untuk menyembuhkannya. Namun ternyata, keadaan yang terjadi justru sebaliknya.  Obat-obatan tersebut tidak  lantas membuat odapus merasa lebih baik melainkan akan sembuh jika konsumsi obat-obatan tersebut dihentikan.
DLE dan SLE tingkat keparahannya lebih cenderung pada SLE, karena DLE hanya sebatas pada kulit. Namun, DLE ini akan menjadi SLE jika tidak cepat ditangani. 10-15% diantaranya DLE berkembang menjadi SLE. SLE ini yang biasa disebut dengan lupus oleh masyarakat awam. Dan seperti yang saya bicarakan sebelumnya, bahwa para odapus hanya mengidap demam hingga berbulan-bulan tanpa penanganan medis. Namun ketika pemeriksaan gejala tersebut merupakan lupus. Mungkin, gejala awal tersebut merupakan DLE yang akhirnya menjadi SLE karena tidak cepat ditangani oleh pihak medis.

Se
Seseorang dapat dikatakan odapus jika terlihat ciri dari gejala DLE maupun SLE. Menurut Wallace (2007: 9) gejala-gejala tersebut yakni 1) Mengalami butterfly rash atau ruam kupu-kupu yakni pada hidung dan pipi, 2) Discoid rash merupakan ruam tebal yang terjadi pada kulit yang terkena sinar matahari, 3) Sensitif terhadap sinar matahari dan akan terjadi ruam di kulit, 4) Luka pada mulut atau hidung yang akan kambuh sewaktu-waktu, 5) Radang sendi (radang di dua tulang persendian dengan rasa sakit dan bengkak yang berubah-ubah), 6) Serositis (radang pada garis paru-paru yang disebut juga pleura atau pada jantung yang disebut juga pericardium), 7) Kelainan ginjal, khususnya protein pada contoh urine atau endapan tidak normal dalam urine dan hanya terlihat oleh mikroskop, 8) Kelainan saraf seperti tiba-tiba hilang ingatan tanpa sebab yang dapat dijelaskan, 9) Kelainan darah diantaranya kurang darah, kekurangan sel darah putih, dan kekurangan trombosit, dan 10) Kelainan sistem kekebalan tubuh.

Menurut Moore (2009: 18) systemic lupus erythematosus atau disebut juga SLE merupakan penyakit peradangan kronis yang bisa tak terdiagnosis bertahun-tahun atau salah diagnosis berkali-kali. SLE tidak dapat dibuktikan melalui cara-cara yang sederhana dan pada kenyataannya, tidak ada diagnosa tunggal untuk lupus ini. Lupus sering tidak terdiagnosis karena penyakit ini muncul dengan cara yang tidak berpola dan tidak biasa seperti penyakit lainnya. Sehingga menjadikan para odapus kesulitan mengetahui penyakit yang dideritanya.
Namun, perkembangan dunia medis ini memberikan kemudahan untuk mengenali gejala SLE, yakni jika mengalami empat ciri dari sepuluh ciri yang telah disebutkan sebelumnya.

B.    Jenis-jenis Autoantibodi pada Lupus
Lupus yang merupakan penyakit yang berkaitan dengan imunitas tubuh, tentu terdapat antibodi-antibodi yang berperan di dalamnya. Antibodi-antibodi ini akan banyak membantu saat tes diagnosa lupus yang dilihat dari banyaknya produksi antibodi tersebut. Intensitas banyaknya antibodi tersebutlah yang menjadikan antibodi-antibodi ini disebut dengan Autoantibodi. Autoantibodi yang berperan dalam lupus menurut Wallace (2007: 34) dapat digolongkan menjadi empat, yaitu 1) Antibodi yang terbentuk pada unsur dalam nukleus, yaitu antinuclear antibody (ANA), anti-DNA, anti-Sm, anti-RNP, dan antihistone antibody, 2)  Antibodi yang terbentuk pada sitoplasma atau permukaan sel, yaitu antibodi anti-Ro (SSA), anti-La (SSB), antiphospholipid, dan anti-ribosomal P, 3) Antibodi pada sel-sel yang berbeda jenis, yaitu sel darah merah, sel darah putih, trombosit, atau sel saraf, dan 4) Antibodi yang terbentuk pada antigen yang beredar, yaitu faktor-faktor pembawa reumatik dan circulating immune complexes.
Antibodi yang terdapat dalam komponen inti sel, diantaranya antinuclear antibody atau biasa disebut dengan ANA yang merupakan antibodi untuk inti sel. Pada umumnya, autoantibody inilah yang paling umum pada SLE. Jika dikaitkan, SLE merupakan jenis lupus yang paling berbahaya dan menyerang organ-organ vital dalam tubuh manusia hal ini dikarenakan antibodi pada inti sel tersebut memusuhi sel itu sendiri karena produksinya yang berlebihan sehingga kinerja sel pun tidak berfungsi dengan baik sebagaimana mestinya dan berimbas pada kinerja organ tersebut. Produksi ANA yang berlebihan ini menjadi salah satu tes yang dilakukan untuk mengetahui seseorang mengidap lupus atau tidak. Namun, tes ANA yang positif tidak selalu mengindikasikan lupus sistemik. Menurut Wallace (2007: 34), selama bertahun-tahun tes ANA dilakukan menggunakan sel binatang. Serum manusia disatukan dengan sel ginjal atau sel hati pada hewan mamalia seperti tikus, kucing, ataupun hamster. Dan jika mengandung ANA, antibodi  manusia akan terikat pada sel hewan. Noda yang bersinar pada antibodi mengikat inti sel hewan. Inilah yang mengindikasikan seseorang mengidap lupus. Tes ini lebih akurat untuk memastikan seseorang mengidap lupus atau tidak dibandingkan dengan hanya melihat ciri atau gejala yang dialami oleh seseorang.
Selain ANA, ada pula anti-DNA. Anti-DNA ini merupakan antibodi yang terdapat pada DNA. DNA merupakan molekul yang ada di dalam pusat pengendalian sel dan bertanggungjawab terhadap produksi protein dalam tubuh. Pada manusia normal, ditemukan beberapa antibodi pada satu rantai DNA, namun jika munculnya beberapa anti-DNA pada dua rantai DNA dapat menandakan SLE kronis, karena antibodi tersebut mampu merusak jaringan secara langsung dan 90% odapus yang memiliki anti-DNA  pada dua rantainya, termasuk odapus yang  mengidap SLE kronis.
Adapula anti-Sm. Anti-Sm atau anti smith merupakan antibodi pada nukleus. Dinamakan anti-Sm karena pada awal penemuannya ditemukan saat mendiagnosa wanita bernama Stephani Smith yang mengidap SLE. Menurut Robartaigh (2010) pengujian kehadiran anti-Sm ini karena anti-Sm mengikat antigen tertentu yang terdiri dari satu protein dan RNA yang disebut dengan snRNPs yang berguna untuk penyambungan RNA. Karena anti-SM yang mengikat snRNPs dapat menyebabkan adanya perubahan saat transkripsi. Kemudian, Anti-RNP atau antibodi yang mengarah ke ribonuclear protein akan mengganggu pengikatan RNA dalam sitoplasma.
Antibodi yang terbentuk pada sitoplasma atau permukaan sel diantaranya antiphospholipid yang bereaksi dengan phospholipid sebagai komponen membran sel. Antiphospholipid yang terpenting diantaranya anticardiolipin. Antiphospholipid ini 75% muncul pada pengidap SLE. Kemudian, adapula  anti-Ro yang dapat juga muncul pada selain lupus, yakni sindrom Sjogren yang mengakibatkan penderitanya mengalami mata kering, mulut kering, dan radang sendi. Anti-Ro ini terdapat juga dalam plasenta, sehingga bayi tersebut akan mengalami neonatal lupus ( Wallace, 2007: 36).
Kedua golongan antibodi inilah yang lebih banyak muncul dan dialami oleh para odapus saat dilakukannya diagnosa untuk mengetahui lupus aatu bukan.

C.    Penyebab Lupus
Penyakit yang dapat merusak kinerja rogan ini dapat disebabkan dari beberapa faktor yang tidak hanya faktor genetik saja. Pada kenyataannya, faktor genetik tidak selalu mendominasi. Menurut Wallace (2007: 44), penyebab dari penyakit ini antara lain sebagai berikut.
1.      Genetik. Dalam tubuh manusia tersusun oleh gen-gen yang berasal dari kedua orang tua sehingga akan menentukan sifat manusia tersebut, termasuk juga penyakit. Beberapa jenis gen dapat memperbesar resiko lupus dengan meningkatkan kemampuan tubuh untuk memproduksi lebih banyak autoantibodi. Gen-gen tersebut adalah gen HLA (Human leukocyte antigen) tingkat II, dan gen-gen tersebut muncul di permukaan sel sehingga memunculan zat-zat luar yang disebut antigen. Kerusakan gen HLA tingkat III mengakibatkan kekurangan protein penting yang berperan dalam peradangan dan biasa ditemukan pada SLE. Di luar sistem HLA, gen yang membantu menyusun struktur immunoglobulin atau reseptor di permukaan sel T juga penting. Para odapus, cenderung berjenis kelamin wanita. Faktanya, hormon kelamin perempuan ini lebih cocok dengan aktivitas lupus dibandingan dengan hormon laki-laki.
2.      Faktor lingkungan. Faktor lingkungan ini diantaranya seperti sinar ultraviolet, penggunaan obat-obatan tertentu, dan beberapa zat kimia yang dapat meningkatkan resiko lupus. Faktor-faktor tersebut bertindak seperti antigen yang bereaksi terhadap tubuh dengan memasukkan antigen baru ke dalam sistem imun.
3.      Kelainan pada limfosit-B. Satu pertiga sel darah putih dalam tubuh manusia disebut dengan limfosit. Limfosit ini terbagi atas limfosit B dan T. Sel B ini bertugas memproduksi immunoglobulin dan pada akhirnya menjadi antibodi. Kelainan yang dimaksud di sini ialah kemampuan sel B memproduksi immunoglobulin berlebihan sehingga limfosit B terlalu banyak bekerja.
4.      Kelainan pada limfosit-T. Sel T memiliki fungsi yang bermacam-macam, diantaranya menekan respon kekebalan, meningkatkan respon kekebalan, memusnahkan sel, atau meningkatkan zat-zat kimia seperti sitokonon yang mengatur sel-sel kekebalan untuk bertindak. Pada SLE, terjadi peningkatan fungsi-fungsi tersebut.
5.      Perubahan pada perintah sel. Sel antigen yang muncul atau makrofag pada keadaan normal akan memproses antigen dan membuat ikatan peptida yang merangsang limfosit T. Sedangkan pada lupus, beberapa reseptor di permukaan limfosit T terjadi perubahan struktur dan fungsinya, sehingga adanya kesalahan informasi akibat reseptor di permukaan berubah secara struktur dan fungsi.
6.      Kelainan pada proses immunoglobulin. Immunoglobulin yang diproduksi oleh sel B pada keadaan normal akan melindungi tubuh. Namun, pada pengidap lupus, tugas sebagai pelindung tubuh menjadi keliru saat autoantibodi terbentuk dan menumpuk karena terlalu banyak sehingga menimbulkan peradangan. Autoantibodi tersebut seperti anti-DNA, anticardolipin, atau anti-Ro. Sehingga mampu merusak jaringan secara langsung.
Beberapa penyebab yang telah dijelaskan tersebut pada intinya berawal dari faktor genetik. Namun, saat faktor genetik yang menyebabkan lupus ini bersifat resesif dan memiliki kemungkinan yang kecil untuk terjadinya lupus, akan dapat menjadi dominan ketika terpengaruh oleh faktor-faktor lingkungan terutama dari zat-zat kimia sehingga akan menyebabkan penderita lupus tersebut menjadi alergi terhadap sinar ultraviolet. Dan dari keduanya akan menyebabkan kelainan-kelainan kinerja dari sel ataupun organ sehingga resiko terjadinya lupus semakin besar.
D.    Gen Penyebab Lupus
Penyakit antibodi ini sebenarnya tidak ada gen khusus yang dapat menyebabkan terjadinya lupus. Namun, banyak gen yang berperan sehingga lupus ini terjadi. Lebih dari sepuluh gen yang berperan dan memicu terjadinya lupus ini. Berdasarkan penelitian dengan objek penelitian adalah tikus yang dilakukan oleh para ilmuwan, memunculkan beberapa prediksi diantaranya produksi cytokine yang akan mempengaruhi atau memunculkan lupus. Pada tikus, jika produksi cytokine ini berkurang, maka akan terjadi lupus. Sedangkan pada manusia, lupus disebabkan oleh penurunan produksi cytokine yang akan mempengaruhi jumlah TGF β. TGF β atau Transforming Growth Factor merupakan protein ekstraselular yang dihasilkan oleh sel-sel T yang berperan dalam perkembangan, proliferasi, angiogenesis, regulasi inflamasi, produksi matriks ekstraselluler, ekspresi integrin, aktifitas protease, dan apoptosis. Dari berbagai studi pada binatang percobaan dan klinis diketahui bahwa TGF β  memegang peranan penting dalam terjadinya penyakit-penyakit inflamasi. Penyakit inflamasi inilah diantaranya peyakit lupus. Produksi TGF β akan mengakibatkan berkurangnya komunikasi limfosit B dan T. komunikasi yang dimaksud yaitu komunikasi antara limfosit B dan T dalam membuat antibodi terhadap antigen yang sama.
TGF β merupakan salah satu jenis cytokine. TGF β ini merupakan hal yang penting yang dibutuhkan oleh limfosit B dan T untuk salaing berkomunikasi. Namun pada pengidap lupus, berkurangnya cytokine baik jenis apapun akan memicu terjadinya SLE. Selain TGF β, ada pula IFN atau Interferon. IFN ini pada manusia berfungsi sebagai pertahanan terhadap inveksi virus. IFN ini akan bekerja menginfeksi virus sebelum sistem imun yang lebih spesifik akan bekerja menangani virus tersebut. Dengan kata lain, IFN ini merupakan pengobatan pertama atau penanganan pertama pada virus. Lalu, mengapa bisa terjadi lupus? IFN ini dapat memicu SLE jika produksinya meningkat, sehingga dapat merusak reseptor atau sel yang terinfeksi virus. Jika IFN meningkat, maka akan diproduksi antibodi anti-IFN. Antibodi anti IFN ini akan mempengaruhi perkembangan lupus dan mempengaruhi respon patogen tertentu. IFN ini pula yang berperan pada gejala awal SLE seperti ruam kemerahan pada kulit, demam, dan gejala awal lainnya.

Gambar. Letak HLA dalam kromosom.
Sumber. http://www.intechopen.com/
Keduanya, baik TGF β maupun IFN dikendalikan oleh gen bernama HLA atau Human Leukocyte Antigen. HLA hanya ada pada manusia, pada vertebrata lainnya disebut dengan MHC atau Major Histocompability Complex. Lokus HLA merupakan lokus yang berisi gen-gen yang berhubungan dengan fungsi sistem imun. HLA inilah berada pada kromosom 6. HLA terbagi atas tiga kelas, yakni HLA kelas 1 (A, B, dan C) berperan dalam produksi peptida yang dibuat dari protein. Protein ini berasal dari patogen yang dirombak pada saat fagositosis. Kemudian HLA kelas II (DP, DQ, dan DR) berperan dalam merangsang multiplikasi sel-sel T yang akan merangsang antibodi untuk memproduksi sel B antibodi dengan antigen yang spesifik. Dan HLA kelas III berperan dalam mengkodekan komponen dari sistem komplemen. Sistem komplemen ini diantaranya TNF  α, TNF β (Tumor Necrosis Factor), C2, C4, dan lain-lain. C1q, C2, dan C4 ini rentan terhadap SLE dan berperan pula dalam pengembangan SLE.

Penelitian terbaru mengatakan, bahwa terdapat gen-gen kandidat yang berpotensi menjadi genom penyebab lupus. Dan masih banyak gen yang berperan dalam terjadinya SLE, yakni sekitar 20-50 jenis gen. Dan sebelumnya, telah dikatakan bahwa lupus merupakan penyakit autoimun. Kaitannya dengan beberapa gen yang telah dipaparkan sebelumnya dengan sistem imun yang menjadi autoimun adalah sistem imun yang bekerja secara normal akan berubah menjadi autoimun ketika gen-gen yang menyebabkan penyakit tersebut bekerja dan merangsang sistem imun untuk merespon. Namun dalam respon sistem imun tersebut terjadi salah komunikasi antara sel atau gen yang bekerja di dalam sistem imun tersebut. Berikut ini tabel yang memuat gen-gen yang menyebabkan SLE.


Gene loci
Species
Immunological effects
Complement components and receptors C1q, C2, C4, CR1, CR2
Human
Inadequate removal of immune complexes and apoptotic bodies
Cytokines, IL-10, IL-6, TNF α
Human and mouse
Perturbed lymphocite functions and lack of regulatory Tcells
MHC class II DR, DQ (human), I-A, I-E (mouse)
Human and mouse
Abnormal T-lymphocyte repertoire and autoantibody production
TCR: α, β. ɣ gene loci
Human
Distorted T-cell repertoire and autoantibody production
Ig heavy and light chain gene loci
Human
Skewing of the B-lymphocyte repertoire
IgG Fc receptors: FcgIIa, IIIa, IIIb
Human
Binding of immune complexes to macrophages and lymphocytes
TCR associated signalling molecules:
TCRz chain, SHP-1

Human
and mouse

Defective TC-mediated signalling and function, lymphoproliferation,
autoantibody production
BCR associated signalling molecules:
SHP-1, FcgRIIb, Yaa

Mouse

Enhanced B-lymphocyte proliferative responses, autoantibody
production
Apoptosis: Fas, FasL

Mouse
Defect in clonal deletion of T and B lymphocytes,
lymphoproliferation, autoantibody production
Membrane accessory molecules on
lymphocytes: CD40L, CD22, FcgRIIIb
Human
and mouse
Excessive lymphocyte proliferative responses
Cell cycle gene: p21
Human
and mouse

Accumulation of T-lymphocytes in the G1 phase of the cell cycle,
defective apoptosis
Nuclease enzymes: Dnase 1
Human
and mouse

Accumulation of DNA leading to loss of immune tolerance
Genes regulating B- and T-lymphocyte responses and tolerance to chromatin:
sle1, sle2, sle3

Mouse

Breakdown of tolerance to chromatin, B-lymphocyte hyper
responsiveness, T-lymphocyte hyper responsiveness and
defective apoptosis




Inilah gen-gen kandidat yang berpotensi menyebabkan SLE
Genes
Odds Ratio
P-values
Overwhelming evidence
The MHC
2.36
1.7x10-52
2.01
2.71x10-21
ITGAM
1.62
1.61x10-23
1.33
3x10=11
IRF5
1.54
3.61x10-19
1.72
1.65x10-11
BLK
1.39
1x10-10
1.22
7x10-10
STAT4
1.53
8.96x10-14
1.50
2.8x10-9
Strong evidence
PTPN22
1.53
5.2x10-6
1.49
<1x10-5
FCGR2A
1.35
6.78x10-7
1.30
0.0016
Good evidence
TNFSF4
over: 1.63 (T/U)
and 1.28b
over: 1.91x10-6
under: 0.76 (T/U)
and 0.71
under: 6.08x10-7
BANK1
1.38
3.7x10-7
FCGR3B copies
2.21c
2.7x10-8
MECP2
1.39
1.2x10-8
KIAA1542 (?IRF7)
1.28
3.00x10-10
PXK
1.25
7.10x10-9
NMNAT2
1.18
1x10-10
ATG5
1.19
1.36x10-7
XKR6
1.23
2.51x10-11
ICA1
1.32
1.90x10-7
LYN
1.30
5.4x10-9
C8orf12
1.22
4.00x10-10
UBE2L3
1.22
7.53x10-8
SCUBE1
1.28
1.21x10-7
Further data required
PDCD1
TYK2
CTLA4/ICOS
CRP
MBL



E.     Terapi Gen Lupus
Terapi gen yang telah banyak dipraktikkan oleh para peneliti, atau terapi gen yang telah dilakukan oleh para Odapus merupakan terapi gen cytokine yang pada umumnya bersifat anti peradangan. Penggunaan cytokine anti inflamasi atau peradangan ini telah digunakan untuk mengobati jaringan di penyakit autoimun. Sebelum penggunaan cytokine, digunakan antibodi monoklonal, namun terdapat banyak kekurangan, diantaranya protein harus berulang kali diberikan melalui parenteral atau pemberian obat atau protein yang dilakukan dengan menyuntikkan obat tersebut ke jaringan tubuh atau pembuluh darah dengan menggunakan jarum suntik yang merupakan salah satu bentuk ketidaknyamanan dalam pengobatan. Salah satu penyebab lainnya digunakannya terapi gen cytokine karena lupus ini dapat dikarenakan cacat produksi atau salah dalam merespon inflamasi cytokine sehingga berkontribusi dalam patogenesis pada lupus.
TGF β-1, Potensi Untuk Terapi Gen
Cytokine yang sering digunakan adalah yang jenis anti inflamasi terkuat yakni TGF β-1 , walaupun adapula cytokine dengan jenis IL-4, IL-10, dan IL-13 yang memiliki beberapa kemampuan efek yang sama dengan TGF β-1 khususnya pada tindakan atau respon cytokine-cytokine tersebut terhadap makrofag. TGF β-1 digunakan karena salah satu alasannya diantaranya reseptor TGF β-1 telah banyak diekspresikan oleh hampir semua sel dan cytokine jenis ini mampu mengikat beberapa komponen matriks dalam jaringan. TGF β-1 ini merupakan tipe utama yang dihasilkan oleh sistem kekebalan tubuh yang disekresikan dalam bentuk laten. Sekresi TGF β-1 ini dengan cara TGF β-1 yang telah matang berkaitan dengan peptida dan adapula TGF β-1 laten yang dikaitkan dengan protein. Bentuk aktif dari hasil sekresi tersebut dapat dihasilkan secara in vitro dengan cara pengasaman pada komplek tersebut. Pada makrofag, TGF β-1 memusuhi kegiatan dari IFN ɣ dan TNF α dan menghambat aktivitas induksi nitrat oksida sintase (iNOS). Efek ampuh lainnya dari TGF β-1 adalah mampu  melumpuhkan tikus hingga mati dengan cepat dari sindrom inflamasi sistemik.
Terapi gen yang dilakukan memang diantaranya menggunakan TGF β-1, namun ditujukannya atau perannya bukan menginflamasi melainkan anti inflamasi. Kegiatan TGF β-1 ini dapat menjadi pelindung dari beberapa kondisi peradangan. Penelitian mengenai pengobatan lupus masih terus dilakukan, dan salah satunya dengan terapi gen yang menginjeksikan plasmid DNA yang telah dikodekan TGF β-1  secara intramuskular atau di dalam otot dan terjadi peningkatan cytokine dalam tubuh yang diinjeksikan plasmid DNA TGF β-1 tersebut. Pengaktifan TGF β-1 dalam tubuh ini dimungkinkan dengan cara in vivo  yang diaktifkan pada lokasi inflamasi melalui aksi dai makrofag atau sel limfoid lainnya.
Penelitian mengenai terapi gen TGF β-1 ini masih sering dilakukan pada Mus seperti menginjeksikan Salmonella thyphimirium yang membawa gen mencit yang sebelumnya telah dikode IL-2 dan TGF β-1. Setelah diinjeksikan, secara in vivo bekteri mensintesis dan melepaskan perlahan-lahan cytokine tersebut. Namun ternyata penelitian tersebut tidak dapat membuktikan TGF  β-1 dapat bekerja sama dengan IL-2. Cara kerja dari TGF β-1 berlawanan dengan IL-2. Terapi gen  IL-2 dapat memulihkan respons proliferatif T – limfosit yang rusak untuk mitogen dan menekan respon autoantibody , nefritis , dan pertumbuhan tumor limfoid. Tidak dapat bekerjasamanya TGF β-1 dengan IL-2 inilah yang masih belum diketahui. Penelitian yang dilakukan lebih lanjut, injeksi plasmid DNA yang dikodekan TGF β-1 ke otot rangka dari Mus dapat menimbulkan efek biologis dari karakteristik cytokine. TGF β-1  vektor dengan sendirinya tertekan respon dari antibodi antitransferrin dan menyebabkan peningkatan delapan kali lipat dalam aktivitas TGF β-1 plasma. Injeksi plasmid TGF β-1 tidak menyebabkan infiltrasi otot dengan monosit atau neutrofil dan tidak ada bukti untuk perubahan fibrotik.
TGF β-1 memiliki efek fibrinogenik dan imunosupresif yang dapat merugikan, karena produksi berebihan dapat dikaitkan dengan fibrosis paru-paru, glomerulopathy, skleroderma, penyakit graft-versus-host kronis, dan gangguan imunitas terhadap agen infeksi dan tumor.
Terapi Gen dengan CTLA-4
CTLA-4 atau cytotoksik T-Lymphocite antigen-4 mengikat B7-1 dan B7-2 yang merupakan jenis perangat membran protein, dengan afinitas tinggi dan menghambat penyediaan sinyal stimulasi melalui interaksi B7 yang berikatan dengan CD28. Memang, CTLA-4 telah intens dipelajari sebagai molekul imunosupresif, khususnya pada penerima transplantasi. Terapi gen menggunakan pendekatan ini juga telah terbukti bermanfaat dalam BMR lpr / lpr tikus lupus . Peneliti menunjukkan bahwa pemberian sistemik dari bentuk larut CTLA-4 dapat  mencegah patologi autoantibodi - dimediasi di BMR lpr/lpr tikus . Untuk menguji efek protektif potensi CTLA-4 pada pengiriman gen  pengembangan lupus nefritis, disuntikkan BMR lpr/lpr tikus dengan rekombinan vektor adenovirus yang mengandung gen CTLA-4. Hasil tunggal injeksi intravena AdCTLA-4 ke BMR lpr/lpr tikus mengakibatkan penekanan pada nefritis.

Gambar. Terapi gen dengan CTLA-4


Terapi Gen dengan Inhibitor Cytokine
Sebelumya, terapi gen yang dilakukan dengan menggunakan beberapa jenis dari cytokine, terapi gen ini dengan menggunakan inhibitor dari cytokine  itu sendiri. Dengan tujuan sebagai terapi, inhibitor yang dipilih merupakan inhibitor yang menguntungkan dan tidak beracun. Transfer cDNA yang mengkode molekul-molekul ini melindungi terhadap beberapa penyakit autoimun.
Menurut penelitian mengenai lupus, para peneliti mengkode suatu protein yaitu plasmid IFN-ɣR/IgG1-Fc ke dalam segmen yang sesuai dengan cDNA mencit yakni VR-1255. Suntikan secara intramuskular pada mencit mengakibatkan tingkat serum IFN-ɣR/IgG1-Fc meningkat menjadi lebih dari 100 ng/ml walaupun setelah berbulan-bulan penyuntikan tersebut. Ada tingkat yang lebih tinggi yakni 4200 ng/ml yang dihasilkan dari penyuntikan pada DNA secara berulang-ulang. Tingkat tinggi dan jangka waktu yang lama reaksi dari terapi tersebut dimungkinkan terkait dengan IFN-ɣ . karena interferon ɣ dapat menekan transkripsi dari CMV atau Cytomegalovirus yang terdapat pada plasmid VR-1255.
Percobaan dengan organisme hidup, IFN-ɣR/IgG1-Fc mampu memblokir aktivitas IFN-ɣ yang diinduksi oleh Streptozotocin ataupun siklofosfamid (pada tikus disebut dengan NOD). Terapi gen dengan IFN-ɣR/IgG1-Fc yang dilindungi oleh NOD lebih baik dibandingkan dengan gen IFN-ɣ knockout.
Peningkatan kadar IFN-ɣ ini merupakan salah satu penyebab yang paling sering terjadi dalam lupus. Peneliti menginokulasikan plasmid IFN-ɣR/IgG1-Fc ke MRL atau Mouse Lymphoproliferation strain dan menghasilkan reaksi atau ekspresi yang rendah dibandingkan dengan penelitian sebelumnya yang menggunakan NOD. Kemudian diterapkan dengan metode elektroporasi yang bertujuan untuk meningkatkan MRL. Hasilnya, serum IFN-ɣR/IgG1-Fc mampu mengurangi IFN-ɣ sehingga elektroporasi ini efektif digunakan. Pada mamalia besar dan primata, transfer gen DNA secara intramuskular memang tidak seefisien pada mamalia pengerat. Namun, dengan metode elektroporasi ini meningkatkan keefektifan transfer gen DNA secara intramuskular.
Pengobatan dengan plasmid IFN-ɣR/IgG1 dengan suntikan intramuskular ini mampu melindungi tikus atau mencit dari kematian dini, titer autoantibodi, dan gejala lupus lainnya. Sehingga tingkat keparahan lupus pada hewan ini mampu menurun. Peran IFN-ɣ terhadap pengembangan lupus ini memacu produksi autoantibodi dari IgG2a dan IgG3. Selain itu, IgG3 memiliki sifat kriogenik. Selanjutnya, IFN ɣ meningkatkan beberapa kegiatan patogen pada  makrofag dan memacu peradangan pada jaringan target.
Penambahan segmen IgG Fc dengan protein terapeutik tidak selalu penting, tetapi dapat memberikan keuntungan yang signifikan. IgG menyederhanakan pemurnian protein rekombinan dengan afinitas kromatografi, dan peningkatan ukuran dapat memperpanjang protein kecil dalam cairan tubuh .




BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan sebelumnya, terapi gen untuk lupus ini dapat disimpulkan sebagai berikut.
1.      Lupus disebut juga penyakit autoantibodi karena antibodi yang bekerja memproduksi lebih banyak hingga mampu merusak organ tubuh.
2.      Salah satu faktor penyebab terjadinya lupus adalah genetik dan dapat dikembangkan karena faktor lingkungan, kelainan limfosit T dan B, maupun kelainan immunoglobulin. Terdapat 50 jenis gen yang berpotensi menyebabkan SLE. Diantaranya gen TGF β atau Transforming Growth Factor, IFN atau Interferon, dan  HLA atau Human Leukocyte Antigen.
3.      Terapi gen yang dapat dilakukan diantaranya dengan terapi TGF β-1, CTLA-4, dan dari inhibitor cytokine. Secara teknik, terapi gen yang berbeda tersebut memiliki teknik yang sama. Yaitu dengan mengkode suatu gen yang sesuai dengan DNA dan diinjeksikan secara intramuskular. Selain itu, adapula yang menggunakan bantuan elektroporasi yang bertujuan memaksimalkan dan mengefisienkan terapi gen tersebut.


DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2007. “Control of Immune Responses via CD28 and CTLA-4”. http://www.rndsystems.com/cb_detail_objectname_SP97_ControlofImmuneResponse.aspx. diakses pada tanggal 21 Oktober 2013.
Anonim. 2013. “Lupus, gejala, penyebab, dan jenis lupus”. http://penyakit-lupus.com/penyakit-lupus-gejala-penyebab-jenis-penyakit-lupus/. Diakses pada tanggal 21 Oktober 2013.
Anonim. 2013. Human Leukocyte Agent. http://en.wikipedia.org/wiki/ Human leukocyte_antigen. diakses pada tanggal 17 September 2013.
Crow, Mary dan Jay Wohlgemuth. 2003. “Microarray analysis of gene expression in lupus”. http://www.biomedcentral.com/content/pdf/ar1015.pdf. diakses pada tanggal 15 September 2013.
Djauzi, Samsuridjal. 2010. Raih Kembali Kesehatan. Jakarta: Kompas.
Jonna, B. 2008. “Immune Dysfunction in Autism Spectrum Disorder”. http://www.intechopen.com/books/autism-a-neurodevelopmental-journey-from-genes-to-behaviour/immune-dysfunction-in-autism-spectrum-disorder. diakses pada tanggal 21 Oktober 2013.
Mageed, R.A dan G J Prud’homme. 2003. “Immunopathology and the gene therapy of lupus”. http: //www.nature.com /gt/journal /v10 /n10 /full/ 3302016a.html. Diakses pada tanggal 13 September 2013.
Moore, Sharon. 2007. Lupus. Yogyakarta: Mizan.
Morgan, Geri dan Caroline Hamilton. 2009. Obstetri Ginekologi. Jakarta: EGC.
Rhides, B dan Vyse. 2008. “The genetics of SLE: an update in the light of genome-wide association studies”. http://rheumatology.oxfordjournals.org /content/47/11/1603.short. diakses pada tanggal 13 September 2013.
Robartaigh, Patrick. 2010. What Are Anti-Smith Antibodies?. http: // www.ehow. com /info_8550343_antismith-antibodies.html . diakses pada tanggal 17 September 2013.
Ronnblom, Lars dan Gunnar V Alm. 2002. “Systemic lupus erythematosus and the type I interferon system”. http: //www.ncbi.nlm. nih. Gov /pmc /articles /PMC165035/. Diakses pada tanggal 5 Oktober 2013.
Wallace, Daniel. 2007. The Lupus Book. Yogyakarta: IKAPI.

Komentar

Postingan Populer